Asas-asas Kurikulum Pendidikan Islam

Edukaislam.com - Sesuai dengan karakter ajaran Islam, yakni sebuah ajaran yang terbuka terhadap berbagai masukan dan pengaruh dari luar, maka kurikulum pendidikan Islam juga menerima berbagai masukan dan pengaruh dari luar. S. Nasution misalnya menyebutkan adanya asas filosofis, sosiologis, organisatoris dan psikologis pada kurikulum, sedangkan Omar Mohammad Al- Toumi Al- Syaibany menambahkan asas agama. Asas-asas tersebut juga digunakan dalam kurikulum pendidikan Islam.



Adapun asas-asas tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:

1. Asas Agama

Asas agama ini muncul terutama dari pemikir pendidikan islam, yang umumnya mempunyai pendirian bahwa segala sitem yang ada dalam masyarakat, termasuk sistem pendidikan harus meletakkan dasar falsafah, tujuan, dan kurikulumnya pada ajaran agama. Dalam Islam sumber ajaran agama yang pokok adalah al-qur’an dan sunnah, dan sumber lainnya adalah ijtihad. Dari sumber-sumber inilah aspek-aspek atau unsur-unsur pendidikan dikembangkan, seperti perumusan kajian pendidikan, materi dan strategi pelaksanaannya.

Dasar berfikir bagi Asas agama ini adalah seperti dalam Asas filsafat, bahwa dalam kegiatan pendidikan akan muncul persoalan-persoalan yang sangat mendasar seperti kemana pendidikan harus diarahkan, siapakah peserta didik itu, apa yang harus dididikkan ke peserta didik dan sebagainya, yang semua ini memerlukan jawaban-jawaban mendasar. Disini antara agama dan filsafat bisa saling melengkapi dalam memberikan jawaban agama yang  bersumber pada wahyu yang sifat kebenarannya mutlak mampu memberikan jawaban dan arahan yang tidak bisa diberikan oleh filsafat.

2. Asas Filosofis

Asas ini berkaitan dengan tujuan pendidikan yang akan dicapai. Tujuan pendidikan disesuaikan dengan filsafat negara. Filsafat yang dianut negara Indonesia adalah Pancasila, maka tujuan pendidikannya akan bersesuaian pula dengan Pancasila. Tujuan pendidikan tiap negara berbeda satu sama lainnya dikarenakan perbedaan filsafat bangsa yang dianut. Yang perlu diketahui adalah adanya kejelasan filsafat. Filsafat yang tidak jelas berimbas pada tujuan pendidikan yang tidak jelas. Dan, konsekuensinya kurikulum yang digunakan pun menjadi kabur.

Pendapat yang menyatakan bahwa guru tidak perlu mempelajari filsafat adalah salah.besar. Filsafat dipelajari untukmeyakinkan kita tentang hakikat manusia (anak didik), sumber kebenaran, nilai-nilai yang menjadi pegangan, hidup yang baik, bahan yang seharusnya diajarkan kepada anak didik,peranan sekolah dalam masyarakat, peranan guru dalam proses belajar mengajar dan lain sebagainya.

Manfaat asas filosofis menjadi dasar bagi kurikulum untuk merumuskan tujuan- tujuan pendidikan yang ingin dicapai.Untuk itu ada beberapa aliran filsafat yang perlu diketahui,yaitu:

     a. Aliran Perennialisme

Aliran filsafat ini bertujuan mengembangkan kemampuan intelektual anak melalui pengetahuan yang abadi, universal dan absolut. Kurikulum yang  diterapkan terdiridari subject atau mata pelajaran yang terpisah. Mata pelajaran yang dianggap mampu mengembangkan kemampuan intelektual seperti Matematika, Fisika, Kimia dan Biologi yang diajarkan. Sementara mata pelajran yang berkenaan dengan dan jasmani seperti seni rupa dan olahraga sebaiknya dikesampingkan.

     b. Aliran Idealisme

Aliran ini berpendapat bahwa kebenaran berasal dari Tuhan. Hampir semua agama menganut filsafat ini. Tujuan hidup ialah memenuhi kehendak Tuhan. Oleh karena itu, kurikulum yang diterapkan di sekolah akan berorientasi keagamaan. Namun, pendidikan intelektual juga sangat diutamakan.

      c. Aliran Realisme

Hukum-hukum alam dapat ditemukan berdasarkan pengamatan dan penelitian karena prinsipnya, aliran filsafat realisme mencari kebenaran di dunia sendiri. Kurikulum yang disandarkan aliran filsafat ini mengutamakan pengetahuan yang esensial, sehingga pelajaran seperti keterampilan dan kesenian dianggap tidak perlu.

     d. Aliran Pragmatisme

Sebutan Instrumentalisme atau Utilitarianisme juga dipakai untuk aliran yang berpendapat bahwa kebenaran adalah buatan manusia berdasarkan pengalamannya ini. Tidak ada kebenaran mutlak karena kebenaran bersifat tentative dan dapat berubah. Untuk itu, sekolah yang berlandaskan aliran filasafat ini memberikan kesempatan kepada anak untuk melakukan berbagai kegiatan guna memecahkan masalah.

Aliran ini sering sejalan dengan aliran rekonstruksionalisme yang berpendirian bahwa sekolah harus berada pada garis depan pembangunan dan perubahan masyarakat karena sekolah dipandang sebagai masyarakat kecil.

      e. Aliran Ekstensialisme

Individu dipandang sebagai faktor yang ikut menentukan apa yang baik dan benar. Sekolah yang berlandaskan aliran filsafat ini mendidik anak agar dapat menentukan pilihan dan mengambil keputusan sendiri dan berani menolak otoritas orang lain sehingga kurikulum, pedoman, instruksi, buku wajib dan lain sebagainya yang berasal dari pihak luar pun ditolak.

3. Asas Sosiologis

Anak dapat dididik dengan baik jika kita memahami masyarakat tempatnya hidup. Untuk itu perlu dipelajari keadaan, perkembangan, kegiatan dan aspirasi masyarakat. Perubahan yang terjadi dalam masyarakat membuat sekolah- sekolah harus bergerak cepat agar tetap relevan.

Kemajuan teknologi memperbesar kebergantungan manusia terhadap manusia lainnya. Semua saling membutuhkan untuk memenuhi keperluan hidupnya. Lama- kelamaan, muncul berbagai macam masalah dalam masyarakat. Menurut Dewey dalam Nasution, sekolah sebagai lembaga pendidikan dapat dijadikan alat yang paling efektif untuk merekonstruksi dan memperbaiki masyarakat. 

Sementara Counts dalam buku yang sama juga menyatakan bahwa pendidikan tidak hanya diharapkan membawa perubahan dalam masyarakat tetapi juga mengubah tata-sosial dan mengatur perubahan sosial tersebut. hal ini juga dipaparkan oleh Smith yaitu pendidikan sebagai management and control of social change and as social engineering, and of educators as statesmen. Lain pula yang dipaparkan oleh Drost, yaitu sekolah adalah pembantu orang tua pada bidang tidak dapat ditangani oleh orang tua sendiri yakni pengajaran.

Masyarakat yang dinamis tidak mungkin lagi sesuai dengan penerapan kurikulum yang konservatif,  yaitu statis, kolot dan membatu. Bangsa yang telah merdeka seperti Indonesia tidak lagi pantas menggunakan rencana pelajaran bercorak kolonial. Lebih tepat jika digunakan kurikulum yang fleksibel yaitu kurikulum yang dapat diubah menurut kebutuhan dan keadaan. 

4. Asas Organisatoris

Asas ini diterapkan dalam membentuk organisasi kurikulum yaitu pola atau bentuk bahan pelajaran serta penyajiannya kepada siswa. Bentuk kurikulum turut menentukan bahan pelajaran, urutan dan cara menyajikannya. Jenis- jenis kurikulum yang banyak dipakai juga menentukan peranan guru dan siswa dalam proses pembelajaran.

5. Asas Psikologis

Pengambilan keputusan tentang suatu kurikulum pengetahuan tentang psikologi anak dan bagaimana anak belajar diambil atau tidak, perlu disesuaikan dengan hal-hal berikut:

  • a. seleksi dan organisasi bahan pelajaran
  • b. menentukan kegiatan belajar yang paling serasi
  • c. merencanakan kondisi belajar yang optimal agar tujuan belajar tercapai.


Selain itu, perlu dipelajari tentang psikologi perkembangan anak dan psikologi belajar. Hal itu dikarenakan pendidikan yang akan dituangkan ke dalam berbagai macam bentuk kurikulum harus disesuaikan dengan kondisi psikologis anak didik untuk mengikuti proses belajar mengajar serta teori- teori yang tepat untuk diterapkan.




Referensi :
Wiji Hidayati,Pengembangan Kurikulum,(Yogyakarta:PEDAGOGIA,2012),h. 26-27
S. Nasution,Asas-asas Kurikulum, (Cet.II. Jakarta :Bumi Aksara, 2003), h. 22
Lias Hasibuan, Inovasi dan Pengembangan Kurikulum, (Jambi: Pusat penerbitan Program Akta Mengajar IV, 2007), h. 41
S. Nasution,Asas-asas Kurikulum, h. 23
J. Drost SJ, Dari Kurikulum Bertujuan Kompetensi sampai Manajemen Berbasis Sekolah.terj.(Jakarta : Penerbit Buku Kompas, 2005), h. 34


loading...