Sejarah Perkembangan Ahmadiyah

Edukaislam.com - Terdapat dua kelompok Ahmadiyah. Keduanya sama-sama mempercayai bahwa Mirza Ghulam Ahmad adalah Isa Al Masih yang telah dijanjikan Nabi Muhammad SAW. Akan tetapi, dua kelompok tersebut memiliki perbedaan prinsip:


a. Ahmadiyah Qadian, di Indonesia dikenal dengan Jemaat Ahmadiyah Indonesia (berpusat di Bogor) merupakan kelompok yang mempercayai bahwa Mirza Ghulam Ahmad adalah seorang Mujadin atau pembaru dan seorang nabi yang tidak membawa syariat baru.

b. Ahmadiyah Lahore, di Indonesia dikenal dengan gerakan Ahmadiyah di Indonesia (berpusat di Yogyakarta), adalah kelompok yang secara umum tidak menganggap Mirza Ghulam Ahmad sebagai nabi, melainkanhanya sekadar Mujadin dari ajaran islam. 
Ahmadiyah Lahore mempunyai keyakinan bahwa mereka :

  • 1) Percaya pada semua aqidah dan hukum yang tercantum dalam AlQuran dan Al Hadist serta percaya pada semua perkara agama yang telah disetujui para ulama salaf dan ahlus-sunah waljamaah dan yakin bahwa Nabi Muhammadiyah SAW adalah nabi yang terakhir. 
  • 2) Nabi Muhammad SAW adalah khatamun-nabiyyin. Sesudahnya tidak akan datang nabi lagi, baik nabi lama maupun nabi baru. 
  • 3) Sesudah Nabi Muhammad SAW, Malaikat Jibril tidak akan membawa wahyu nubuwwat kepada siapapun. 
  • 4) Sesudah Nabi Muhammad SAW istilah wahyu nubuwwat telah tertutup tetapi istilah wahyu walayat tetap terbuka agar iman dan akhlak, tetap cerah dan segar.
  • 5) Sesuai dengan sabda nabi muhammad saw bahwa di dalam umat ini tetap akan datang auliya Allah, para mujaddid dan para muhaddats, tapi tidak akan datang nabi.
  • 6) Mirya ghulam ahmad adalah mujaddid abad 14 H. Dan kepercayaan kami bahwa ia bukan nabi, tetapi berkedudukan sebagai mujaddid.
  • 7) Percaya kepada Mirza Ghulam Ahmad bukan bagian dari rukun islam dan rukun iman. Maka orang yang tidak percaya kepada Mirza Ghulam Ahmad tidak bisa disebut kafir.
  • 8) Seorang muslim, apabila mengucapkan kalimat thayibah, dia tidak boleh disebut kafir. Mungkin dia bisa salah, tetapi seseorang dengan sebab berbuat salah dan maksiat bisa disebut kafir.
  • 9) Ahmadiyah Lahore berpendapat bahwa Mirza Ghulman Ahmad adalah pelayanan dan pengembang misi Nabi Muhammad SAW.


Penganut aliran Ahmadiyah kebanyakan hidup di India dan Pakistan dan sebagian kecilnya di Israel dan wilayah Arab. Mereka senantiasa membantu penjajah agar dapat membentuk/membangun se­buah markas di setiap negara di mana mereka be­rada.

Ahmadiyah memiliki pekerjaan besar di Afrika dan pada sebagian negara-negara Barat. Di Afrika saja mereka beranggotakan kurang lebih 5.000 mursyid dan da’i yang khusus merekrut manusia kepada kelompok Ahmadiyah. Dan aktivitas me­reka secara luas memperjelas bantuan/dukungan mereka terhadap penjajahan.

Keadaan kelompok Ahmadiyah yang sedemikian, ditambah perlakuan pemerintah Inggris yang me­manjakan mereka, memudahkan para pengikut kelompok ini bekerja menjadi pegawai di berbagai instansi pemerintahan di berbagai negara, di Peru­sahaan-perusahaan dan persekutuan-persekutuan dagang. Dari hasil kerja mereka itu dikumpulkan­lah sejumlah dana untuk membiayai dinas rahasia yang mereka miliki.

Dalam menjalankan misi, mereka merekrut manu­sia dengan segala cara, khususnya media massa. Mereka adalah orang-orang yang berwawasan dan banyak memiliki orang pandai, insinyur dan dok­ter. Di Inggris terdapat stasiun pemancar TV de­ngan nama “TV Islami” yang dikelola oleh penga­nut kelompok Ahmadiyah

Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah menetapkan bahwa Ahmadiyah adalah aliran sesat. Ahmadiyah sebagai aliran tersendiri dan lepas dari islam, karena ahmadiyah bukannya agama baru meskipun mempunyai nama tersendiri.Keyakinan kenabian ahmadiyah berbeda dengan keyakinan islam.

Dalam Ahmadiyah dikenal “Mukjizat Ghulam Ahmad” sebagai pendiri aliran Ahmadiyah.Menurut keyakinan jemaat Ahmadiyah, Ghulam Ahmad sebagai nabi menpunyai banyak mukjizat yang merupakan bukti asasi dan atas kebenaran dakwahnya.
loading...