Sejarah Berdirinya Dinasti Shafariyyah

Edukaislam.com - Sejarah Berdirinya Negara Shafariyyah, dinasti kecil yang satu ini merupakan dinasti yang memiliki kekuasaaan terlama dalam sejarah dunia Islam. Tidak hanya memiliki kekuasaan yang panjang namun wilayah kekuasaan dari dinasti saffariyah juga begitu luas pada masa puncak kekuasaannya yaitu sampai kebagian Afghanistan Timur.

Awal kemunculan dari dinasti Saffariyah yaitu adanya pemberontakan kaum Khawarij di daerah Sistan. pendiri dari dinasti Saffariyah yaitu Ya’qub bin Laits yang berprofesi sebagai penempa kuningan (saffar), dinasti ini berkuasa sejak 247-393 H.//861-1003 M.

Adapun wilayah kekuasaan dari dinasti ini yaitu di Iran, yang pusat pemerintahannya berapa di Sijistan atau Sistan. 

Ya’qub bin Laits adalah pemimpin dari kelompok misili yang bernama Ayyarun, kelompok yang ia pimpin merupakan kelompok yang berdiri untuk melawan pemberontakan dari kelompok Khawarij, dalam aksinya ia juga di bantu oleh tiga saudaranya. Dalam aksi perlawanan itu, kelompok Ya’qub berhasil menguasai Sistan pada 247 H./861 M.dan kekuasaapun terus meluas hingga ke wilayah bagian timur. 

Wilayah timur tersebut antara lain, daerah Zabulistan, daerah sekitar Ganza dan Gardiz serta daerah Kabul Bamiyan, pasukan Ya’qub berhasil mencapai daerah tersebut pada 251 H./865 M., kemudian pasukannya juga mampu menguasai kota Heart yang merupakan kota kekusaan dari dinasti Thahiriyah. 

Tidak hanya wilayah timur yang berhasil dikuasai, namun wilayah kekuasaan mulai meluas ke wilayah barat Sistan ysitu Kirman yang berhasil diduduki pada awal 250-an H./akhir 860-an M., akibatnya, khalifah Abbasiyah pun terpaksa mengakui bahwa Ya’qub adalah gubernur daerah tersebut dan wilayah kekuasaan di wilayah barat terus meluas hingga ke Makran di selatan Fars. 

Kemudian Ya’qub menggantikan kekuasaan menjagi gubernur dari Thahiriah saat ia memasuki Nisabur pada 259 H./873 M. setelah itu ia juga meneruskan perjalanannya bersama pasukan ke wilayah Kaspia.

Atas perbuatan Ya’qub beserta pasukannya tersebut, khalifah Bani Abbasiyah yaitu Al-Mu’tamid sangat mengecam tindakan Ya’qub yang telah menyingkirkan gubernur dari dinasti Thahiriyah. 

Tidak cukup sampai disitu, walaupun telah dikecam oleh khalifah Bani Abbasiyah, bukannya gentar, tetapi Ya’qub justru merencanakan gerakan dari Khuzistan ke Irak, diperjalanan sekitar Dair Al-Aqul pasukan Ya’qub justru dikalahkan oleh pasukan Abbasiyah pada tahun 262 H./876 M. Meskipun pasukan Ya’qub menderita kekalahan dari pasukan Abbasiyah namun pada akhirnya pasukan Ya’qub tetap memperoleh kekuasaan Khuzistan dan Fars. Tiga tahun kemudian, Ya’qub meninggal dunia, tepatnya pada tahun 265 H./879 M.

‘Amr bin Laits merupakan penerus dari kepemimpinan dari Ya’qub sebagai pemimpin dinasti Saffariyah. Namun, untuk menjadi pengganti Ya’qub, ‘Amr sebelumnya telah memenangkan perebutan kekuasaan sebagai pemimpin dinasti dengan saudaranya ‘Ali bin Laits.

Dibawah kepemimpinan ‘Amr, wilayah kekuasaan terus diperluas. Perluasaan kekuasaan tidak hanya berada di wilayah Iran, akan tetapi, ‘Amr berhasil membawa dinasti Saffariyah mempu mencapai kekuasaan hingga ke Afghanistan Timur serta perbatasan India. Pada masa kepemimpinan ‘Amr ini, dinasti Saffariyah mencapai puncak kekuasaannya, hingga khalifah Abbasiyah menghadiahi dinasti Saffariyah dengan semua wilayah Khurasan dan Ray.

Meskipun telah dihadiahi semua wilayah Khurasan dan Ray, akan tetapi ‘Amr belum merasa puas hingga ia terus melakukan gerakan menuju Tukharistan untuk menduduki kekuasaan didaerah tersebut. 

Diperjalanan, pasukan ‘Amr harus menerima kekalahan dan ‘Amr sendiri menjadi tawanan dari pasukan musuh yaitu pasukan Ismail bin Ahmad sehingga pasukannya tidak lagi utuh dan Khurasan pun jatuh ketangan dinasti Samaniah. 

Sepeninggal ‘Amr bin Laits, kepemimpinan dinasti Saffariyah dipegang oleh cucunya yang bernama Tahir bin Muhammad bin ‘Amr. Ia memegang kendali pemerintahan dibantu dengan saudara kakeknya.



Pustaka : 
Badri Yatim. Sejarah Peradaban Islam. (Jakarta:PT RajaGrafindo Persada,2010)
Dedi Supriyadi. Sejarah Peradaban Islam. (Bandung:Pustaka Setia,2008)
Muhammad Syafii Antonio. Ensiklopedia Peradaban Islam (Persia). (Jakarta:Tazkia Publishing, 2012)
Samsul Munir Amin. Sejarah Peradaban Islam. (Jakarta:Amzah,2009)
Ahmad Al-usairy, at-Tarikhul Islami ,( H.Samson Rahman ; ____, Terj. 2003)
loading...