Sejarah Berdirinya Dinasti Samaniyah

Edukaislam.com - Sahabat sekalian kita akan membahas Sejarah berdirinya Negara Samaniyah. Adapun pendiri dinasti ini adalah Ahmad bin Asad bin Samankhudat. Nama Samaniyah dinisbahkan kepada leluhur pendirinya yaitu Samankhudat, seorang pemimpin suku dan tuan tanah keturunan bangsawan terkenal di Balkh, sebuah daerah di sebelah utara Afghanistan. 

Dalam sejarah Samaniyah terdapat dua belas khalifah yang memerintah secara berurutan, yaitu;

a. Ahmad I ibn Asad ibn Saman (Gubernur Farghana) 204 H/819 M
b. Nash I ibn Ahmad, (semula Gubernur Samarkand) 250 H/864 M
c. Ismail I ibn Ahmad 279 H/892 M
d. Ahmad II ibn Ismail 295 H/907 M
e. Al-Amir as-Sa’id Nashr II 301 H/914 M
f. Al-Amir al-Hamid Nuh I 331 H/943 M
g. Al-Amir al-Mu’ayyad Abdul Malik I 343 H/954 M
h. Al-amir as-Sadid Manshur I 350 H/961 M
i. Al-Amir ar-Ridha Nuh II 365 H/976 M
j. Mansur II 387 H/997 M
k. Abdul Malik II 389 H/999 M
l. Ismail II Al-Muntashir       390-395H/1000-1005 M

Dinasti ini berbeda dengan dinasti kecil lain yang berada di sebelah barat Baghdad, dinasti ini tetap tunduk kepada kepemimpinan khalifah Abbasiyyah. 


Dalam sejarah Islam tercatat bahwa dinasti ini bermula dari masuknya Samankhudat menjadi penganut Islam pada masa khalifah Hisyam bin Abdul Malik (khalifah Bani Umayyah), sejak itu Samankhudat dan keturunannya mengabdikan diri kepada penguasa Islam. Pada masa kekuasaan al-Ma’mun (198-218 H/813-833 M) dari dinasti Bani Abbasiyyah, empat cucu Samankhudat memegang jabatan penting sebagai gubernur dalam wilayah kekuasaan Abbasiyah yaitu Nuh di Samarkand, Ahmad bin Asad di Farghana (Turkistan) dan Transoksania, Yahya bin Asad di Shash serta Asyrusanah (daerah di utara Samarkand), dan Ilyas di Heart, Afghanistan.


Seorang cucu Samankhudat yang bernama Ahmad bin Asad, dalam perkembangannya mulai merintis berdirinya Dinasti Samaniyah didaerah kekuasaannya, Farghana. Ahmad mempunyai dua putra, Nasr dan Isma’il, yang juga menjadi orang kepercayaan khalifah Abbasiyah. Nasr I bin Ahmad dipercayakan menjadi gubernur di Transoksania dan Isma’il I bin Ahmad di Bukhara. Selanjutnya Nasr I bin Ahmad mendapat kepercayaan dari khalifah al-Mu’tamid untuk memerintah seluruh wilayah Khurasan dan Transoksania, dan daerah ini menjadi basis perkembangan dinasti Samaniyyah. 


Sahabat edukaislam.com, karenanya Nasr I bin Ahmad dianggap sebagai pendiri hakiki dinasti ini. Antara Nasr dan saudaranya, Isma’il selalu  terlibat konflik yang mengakibatkan terjadinya  peperangan, dalam peperangan yang terjadi  Nasr mengalami kekalahan yang kemudian ia ditawan, sehingga kepemimpinan Dinasti Samaniyyah beralih ke tangan Isma’il I bin Ahmad. Adanya peralihan kepemimpinan ini menyebabkan berpindahnya pusat pemerintahan yang semula di Khurasan dipindahkan ke Bukhara.


Pada sa’at pemerintahan dipimpin Isma’il I bin Ahmad, ia selalu berusaha untuk;


a.        Memperkukuh kekuatan dan mengamankan batas wilayahnya dari ancaman suku liar Turki. 
b.       Membenahi administrasi pemerintahan.
c.        Memperluas wilayah kekuasaan ke Tabaristan (Irak utara) dan Rayy (Iran).


Isma’il I bin Ahmad adalah orang yang sangat mencintai dan memuliakan para ilmuwan serta bertindak adil terhadap rakyatnya, setelah ia wafat pemerintahan diteruskan putranya Ahmad bin Isma’il. Setelah Ahmad bin Isma’il, pemerintahan diteruskan putranya Nasr II bin Ahmad yang berhasil memperluas wilayah kekuasaannya hingga Sijistan, Karman, Jurjan di samping Rayy, Tabaristan, Khurasan, dan transoksania. 


Setelah Nasr II bin Ahmad, para khalifah berikutnya tidak mampu lagi melakukan perluasan wilayah, bahkan pada khalifah terakhir Isma’il II al-Muntasir, tidak dapat mempertahankan wilayahnya dari serbuan tentara dinasti Qarakhan dan dinasti Ghaznawiyah dari Turki. Akhirnya wilayah Samaniyah dipecah menjadi dua, daerah Transoksania direbut oleh Qarakhan dan wilayah Khurasan menjadi pemilik penguasa Ghaznawiyah.



Pustaka : 
Badri Yatim. Sejarah Peradaban Islam. (Jakarta:PT RajaGrafindo Persada,2010)
Dedi Supriyadi. Sejarah Peradaban Islam. (Bandung:Pustaka Setia,2008)
Muhammad Syafii Antonio. Ensiklopedia Peradaban Islam (Persia). (Jakarta:Tazkia Publishing, 2012)
Samsul Munir Amin. Sejarah Peradaban Islam. (Jakarta:Amzah,2009)
Ahmad Al-usairy, at-Tarikhul Islami ,( H.Samson Rahman ; ____, Terj. 2003)

loading...