Pokok Ajaran Ahmadiyah


Edukaislam.com - Di kalangan Ahmadiyah, ada beberapa doktrin yang perlu dikaji agar tidak menimbulkan kesalahpahaman tentangnya, antara lain sebagai berikut.

a. Masalah al-Mahdi dan al-Masih

Doktrin ini merupakan ajaran pokok Ahmadiyah. Di kalangan Ahmadiyah Lahore maupun Qadian meyakini bahwa Mirza Gulam Ahmad adalah al-Mahdi seklaigus al-Masih yang dijanjikan. Menurut Ahmadiyah, al-Mahdi tidak dapat dipisahkan dengan al-Masih, karena keduanya merupakan satu tokoh, satu kepribadian, yang kedatangannya telah dijanjikan Tuhan. Ia ditugaskan untuk membunuh Dajjal dan mematahkan tiang salib, yakni mematahkan argumen-argumen agama nasrani dengan dalil-dalil atau bukti-bukti yang meyakinkan serta menunjukkan kepada para pemeluknya tentang kebenaran Islam, dan menegakkan kembali syariat nabi Muhammad saw. yang telah mengalami kemerosotan.

Dasar yang mereka gunakan adalah sabda Nabi Muhammad saw. yang artinya:

Dari Abu Hurairah ra., ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Bagaimanakah sikap kamu sekalian apabila Ibnu Maryam datang (bersamamu) sedangkan imammu berasal dari dari kalanganmu?

Dari Anas bin Malik, bahwa Rasulullah saw. bersabda: “ Tidaklah urusan bertambah kecuali kesulitan; dunia tidak bertambah kecuali kemunduran, tidaklah bertambah manusia kecuali cucuran air mata; tidaklah tiba hari kiamat kecuali atas orang-orang yang jahat; dan tiada seorangpun sebagai al-Mahdi kecuali Isa bin Maryam.

Berdasarkan hadis yang pertama, seluruh umat Islam meyakini bahwa Isa Ibnu Maryam akan datang kembali. Akan tetapi, paham mereka berbeda-beda, ada yang memahami secara harfiah, dan ada pula yang memahaminya secara kiasi. Pada umumnya kaum muslimin berpendapat bahwa al-Masih yang dijanjikan adalah Isa ibn Maryam yang diutus kepada bani Israil, dan sekarang ini ia dianggap masih hidup di langit. Dia akan turun ke dunia dibantu oleh imam Mahdi, keduanya akan berperang melawan orang-orang non-muslim dan tak akan berhenti sebelum mereka semua memeluk agama Islam. sesudah itu didirikan kerjaan Islam di dunia. 

Adapun golongan Ahmadiyah memahaminya secara kiasi, mereka berpendapat bahwa al-Masih telah wafat secara wajar dalam usia lanjut dan tidak akan bangkit lagi sebelum hari kiamat datang. Mereka memahami hal tersebut dari QS. al-Ma'idah/5:117 dan QS. al-Nisa'/4: 157-158 tentang Nabi Isa as. yang meninggal secara wajar.

Terjemahnya: 
Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan padaku (yaitu), “Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu, dan aku menjadi saksi terhadap mereka, selama aku,berada di tengah-tengah mereka. Maka setelah engkau mengangkatku ke langit, Engkaulah yang mengawasi mereka. Engkaulah yang Maha Menyaksikan segala sesuatu. (QS. al-Ma'idah/5: 117)

Terjemahnya:
Dan (kami hukum juga) karena ucapan mereka, “Sesungguhnya kami telah membunuh al-Masih, Isa putra Maryam, rasul Allah padahal mereka tidak membunuhnyadan tidak pula menyalibnya, tetapi yang mereka bunuh adalah orang yang diserupakan dengan Isa, sesungguhnya mereka yang berselisih pendapat tentang (pembunuhan) Isa itu, mereka benar-benar tidak tahu (siapa sebenarnya dibunuh itu), melainkan mengikuti persangkaan belaka, jadi mereka tidak yakin telah membunuhnya. Tetapi Allah telah mengangkat Isa kehadirat-Nya, Allah Maha Perkasa, Maha Bijaksana. (QS. al-Nisa'/4: 157-158)

Terjemahan yang tertera di atas adalah terjemahan yang disusun oleh Departemen Agama RI. Namun, ada perbedaan penafsiran dari golongan Ahmadiyah. Mereka berpendapat bahwa kata syubbiha lahum tidak bisa diartikan sebagai orang yang diserupakan dengan Nabi Isa as., mereka menafsirkannya dengan ditampakkan bagi mereka seperti demikian, yakni seolah-olah Nabi Isa as. telah meninggal di tiang salib. Padahal sesungguhnya Nabi Isa as. meninggal secara wajar. Begitu pula dengan kata rafa’a pada ayat 158, mereka menafsirkannya dengan memuliakan derajatnya,bukan mengangkatnya.

Dan mereka memahami kata imamukun minkum pada hadis tersebut di atas bahwa al-Mahdi adalah berasal dari umat Islam itu sendiri, dan dikaitkan dengan hadis kedua yang menyatakan bahwa al-Mahdi adalah Isa as., maka mereka memahami al-Mahdi dan al-Masih adalah satu tokoh, yang kemudian dipahami secara kiasan, bahwa al-Masih sekaligus al-Mahdi yang dijanjikan, bukanlah Nabi Isa yang diutus kepada bani Israil, melainkan salah seorang umat Muhammad yang mempunyai persamaan dengan Isa al-Masih, dialah Mirza Gulam Ahmad. Lebih lanjut Ahmadiyah Lahoreberpendapat bahwa jika Nabi Isa benar-benar akan datang atau dibangkitkan kembali, maka itu berarti membongkar segel penutup kenabian, yang bertentangan dengan Aqidah Islam.

Menurut Ibnu Hajar al-As\qalani, bahwa hadis-hadis yang mereka gunakan yang berbicara tentang al-Mahdi dan al-Masih adalah bertentangan dengan semua hadis shahih yang berbicara tentang hal tersebut. Dan para ahli fiqhi ,mufassir, serta muhaddis menyatakan bahwa Isa ibnu Maryam akan datang bukan sebagai nabi, tetapi sebagai umat Muhammad, sehingga tidak akan membongkar segel kenabian.

b. Masalah Kenabian

Terkait dengan masalah kenabiaan, dikalangan ahmadiyah terdapat perbedaan pandangan antara Ahmadiyah Qadian dan Lahore. Begitu pun dengan Ahmadiyah dengan kaum muslim pada umumnya. 

Ahmadiyah Qadian memunculkan tiga klasifikasi terkait masalah kenabiaan: 

Nabi shahib asy-Syariah dan mustaqil.shahib asy-Syariah adalah Nabi pembawa syariat (hukum-hukum) untuk manusia. sementara Nabi Mustaqil adalah hamba Allah yang menjadi nabi dengan tidak mengikuti nabi sebelumnya, seperti Nabi Musa a.s,beliau menjdi nabi bukan atas dasar menjadi mengikuti nabi atau syariat sebelumnya. Ia langsung menjadi nabi dan pembawa taurat. Begitu pula NabiMuhammad Saw. nabi semacam ini dapat juga disebut sebagai Nabi Tasyri’Idan mustaqil sekaligus.

Nabi Mustaqil Ghair at-Tasyri’I yakni hamba tuhan yang menjadi nabi dengan tidak mengikuti nabi sebelumnya, hanya saja ia tidak membawa syariat baru. Dalam arti bahwa ia ditugaskan oleh Allah untuk menjalankan syariat yag dibawah oleh nabi sebelumnya. Pada Nabi yang tergolong atau masuk kedalam Nabi Mustaqil Ghair at-Tasyri’I, adalah Nabi Harun, Daud, Sulaiman, Zakariyah, Yahya, dan Nabi Isa a.s. semuanya menjadi nabi secara langsung (Mustaqil), tidak karena hasil mengikuti para nabi sebelumnya. Mereka secara langsung diangkat oleh Allah menjadi Nabi dan ditugaskan menjalankan syariat Nabi Musaa.s. yang ada dalm kitab taurat.

Nabi Zhilli Ghair at-Tasyri’i, yakni hamba tuhan yang mendapatkan anugra dari Allah menjadi nabi semata-mata karena hasil kepatuhan kepada nabi sebelumnya dan juga karena hasil kepatuhan kepada nabi sebelumnya dan juga karena mengikuti syari’atnya. Karena itu, tingkatan berada dibawah kenabiaan sebelumnya dan ia juga tidak membawa syariat baru. Hamba tuhan yang masuk kedalam golongan nabiZhilli Ghair at-Tasyri’i adalah Mirza Ghulam Ahmad yang mengikuti syariat Nabi Muhammad.


Pustaka : 
Iskandar Zulkarnain, Gerakan Ahmadiyah di Indonesia (Cet; Yogyakarta: LKiS, 2005), h. 58 Yogaswara, Heboh Ahmadiyah: Mengapa Ahmadiyah Tidak langsung Dibubarkan?  (Cet. I; Yogyakarta: Narasi, 2008)h. 31
loading...